Senin, 30 Maret 2015

TIPS : 10 Cara Ampuh untuk Meningkatkan Penjualan Online

Apa saja yang harus Anda perhatikan untuk meningkatkan penjualan
Anda, berikut ini kami beberkan 10 cara ;
1. Perlihatkan kepada calon custumer Anda bahwa Anda begitu antusias terhadap produk dan bisnis Anda. Jika Anda antusias, maka mereka pun akan antusias, karena antusias itu bersifat menular.
2. Akhiri e-mail penjualan Anda dengan kata-kata close yang mantap. Seperti bonus tambahan, harga diskon, pengingat praktis, dan deadline order, dsb.
3. Tenteramkan custumer Anda yang melakukan komplain. Berikan jaminan refund dari uang mereka, atau berikan mereka diskon, berikan mereka bonus, berikan mereka solusinya atas masalah tsb, dsb.
4. Buat sedemikian rupa agar custumer Anda merasa tertarik terhadap bisnis Anda sehingga mereka akan menceritakan hal itu kepada rekan-rekan bisnis yang lain. Berikan mereka sesuatu yang gratis juga menarik sebagai bonus, atau sejenisnya.
5. Tumbuhkan keyakinan ekstra pada prospek Anda sehingga mereka kelak
akan membeli dari Anda. Gunakan referensi yang baik dari orang-orang yang telah menjadi custumer Anda, sehingga mereka bisa melihat siapa saja yang telah menjadi custumer Anda, berikan juga jaminan atau garansi kepada mereka, dan sebagainya.
6. Buat pada situs web Anda opt-in list sehingga pengunjung situs Anda dapat mendaftarkan diri untuk mendapatkan e-books, software, kontest, atau sesuatu yang gratis yang dapat ditukar dengan alamat e-mail mereka, karena secara psikologi mereka lebih suka mendapat sesuatu yang bagus gratis walaupun mereka sanggup membelinya.
7. Jangan lupa prinsip aturan 80-20, artinya 80% dari isi situs Anda harus berisi informasi atau hal-hal yang disukai secara umum bagi para pengunjung sedangkan sisanya 20 % atau kurang berisi profil perusahaan Anda serta produk atau jasa yang Anda pasarkan.
8. Upayakan apabila custumer Anda membeli sesuatu dari Anda, mereka mendapatkan sebagian atau sedikit dari apa yang mereka pesan hal itu bisa dalam bentuk sesuatu yang mereka bisa dapatkan secara online.
9. Tulis sebuah artikel ke sebuah penerbit dari suatu newsletter online, Dan hendaklah hal itu dalam bentuk artikel yang bersifat informasi jangan bersifat iklan.
10. Perlihatkan kepada prospek Anda bahwa Anda adalah seorang yang pakar di bidangnya, karena hal tsb dapat meyakinkan mereka. Anda dapat menerbitkan sebuah artikel, menulis sebuah ebook, dan sejenisnya.
Demikian 10 cara ampuh yang bila Anda terapkan, anda akan melihat nilai penjualan Anda meningkat, dan sekaligus Anda dapat mempertahankan custumer Anda secara tetap.
Sumber: Bob Julius Onggo
Bob Julius Onggo adalah Chief editor pada situs webnya, sekaligus sebagai pembicara di berbagai seminar dan forum pemasaran dan bisnis online, dan kolomnis tetap di majalah InfoNet sekarang InfoKomputer dan Bisnis Komputer serta pemulis di Majalah Warta Ekonomi juga artikelnya dijumpai di Majalah Profesi HRD serta di beberapa tabloid, surat kabar, dan majalah. Beliau juga sering menjadi pembicara tamu dari beberapa perusahaan maupun beberapa Universitas Terkemuka di Indonesia (www.bjoconsulting.com)

TIPS : 10 Kiat Memulai Bisnis yang Sukses

Berikut ini 10 langkah yang bisa memandu pebisnis menyusun bisnis dan membuatnya sukses.
1. Kerjakan apa yang Anda sukai. 
Anda akan mencurahkan banyak waktu dan energi untuk memulai sebuah bisnis dan membangunnya menjadi usaha yang berhasil, jadi sangat penting bahwa Anda sangat menikmati secara mendalam apa yang Anda kerjakan, apakah menjalankan sewa pemancingan, mengkreasikan tembikar atau memberikan nasehat keuangan.
2. Mulai bisnis Anda ketika Anda masih bekerja.
Berapa lama paling banyak orang bisa tanpa uang? Tidak lama. Dan ini akan menjadi waktu yang lama sebelum bisnis baru Anda benar-benar membukukan keuntungan. Menjadi karyawan ketika memulai bisnis berarti ada uang di saku ketika Anda memasuki proses memulai bisnis.
3. Jangan kerjakan hal tersebut sedirian.
Anda membutuhkan dukungan ketika memulai bisnis (dan setelahnya). Seorang anggota keluarga atau teman yang dapat memberikan ide dan akan mendengat secara simpatik hingga hal penting tarakhir memulai bisnis tidak ternilai harganya.
4. Pertama dapatkan klien atau pelanggan.
Jangan menanti sampai Anda telah secara resmi memulai bisnis hingga garis ini, karena bisnis Anda tidak dapat bertahan tanpa mereka. Kembangkan jaringan atau network, buat kontak. Jual atau berikan produk atau jasa Anda. Anda tidak dapat memulai pemasaran terlalu cepat.
5. Tulis perencanaan bisnis.
Alasan penting membuat rencana bisnis adalah langkah ini dapat membantu Anda menghindari habisnya waktu dan uang mwmulai bisnis yang tidak akan sukses.
6. Lakukan riset.
Anda akan mengerjakan banyak penelitian sepanjang rencana bisnis, tetapi itu barulah awalnya. Anda untuk menjadi ahli dalam industri Anda, produk dan jasa. Jika Anda telah selesai. Bergabung pada asosiasi industri atau profesional yang berhubungan dengan bisnis Anda sebelum memulai bisnis merupakan ide yang bagus.
7. Dapatkan bantuan profesional.
Di satu sisi, hanya karena Anda menjalankan bisnis kecil, bukan berarti Anda harus menjadi ahli di bidang apa pun. Jika Anda bukan seorang akuntan, hire lah satu atau dua orang misalnya. Jika Anda ingin menulis kontrak, dan Anda bukanlah seorang lawyer, hire lah 1 orang. Anda akan membuang lebih waktu dan mungkin juga uang untuk mencoba melakukannya sendiri pekerjaan dimana Anda tidak memiliki kualifikasi untuk mengerjakannya.
8. Dapatkan uang.
Simpan jika harus, mendekati investor potensial dan pemberi pinjaman. Gambarkan perencanaan keuangan jatuh ke belakang. Jangan mengharapkan memulai bisnis dan kemudian berjalan ke dalam bank dan mendapatkan uang. Pemberi pinjaman tradisional tidak seperti ide baru dan tidak seperti bisnis tanpa pembuktian track records.
9. Jadi lah profesional semenjak memulai.
Segala sesuatu tentang Anda dan cara Anda menjalankan bisnis membuat orang-orang tahu bahwa Anda seorang profesional yang menjalankan sebuah bisnis yang serius. Ini berarti mendapatkan semua pelrengkapan seperti kartu bisnis profesional, telepon bisnis, dan alamat email bisnis, dan memperlakukan orang secara profesional, cara yang sopan.
10. Jalankan hukum dan keluarkan pajak dengan benar pada kali pertama.
Hal tersebut lebih sulit dan lebih mahal dibandingkan mengerjakannya setelah itu. Apakah bisnis anda butuh teregistrasi? Akankah Anda harus memiliki asuransi untuk karyawan atau deal dengan pajak gaji? Akan bagaimana bentuk bisnis yang Anda pilih mempengaruhi situasi pajak pendapatan Anda? Pelajari kewajiban pajak dan hukum sebelum Anda memulai bisnis dan mengoperasikannya.


kliksave : smbzone.indiatimes.com

Tips Menggaet Pelanggan Agar Tetap Lengket

Seringkali dalam berbelanja, orang membeli sebuah produk tidak tergantung pada kualitas barangnya semata. Sikap ramah pelayan, suasana nyaman yang sengaja dihadirkan oleh pemilik usaha juga memberikan pengaruh yang besar bagi pembeli untuk betah berlama-lama memilih barangnya hingga akhirnya memutuskan untuk membeli. Bahkan tidak jarang bagi pembeli yang terpuaskan akhirnya menjadi pelanggan yang setia. Lalu trik jitu apa yang bisa dilakukan para pengusaha untuk membuat pembeli menjadi pelanggan yang loyal?
“Uh…..jutek banget sih pelayannya, bikin kapok buat datang lagi,”ujar seorang ibu saat mendapatkan pelayanan yang tidak memuaskan dari sebuah toko pakaian di suatu pusat perbelanjaan. Gerutuan semacam itu tentu tak mengenakkan baik bagi konsumen maupun bagi pemilik usaha. Sebab kejadian di atas tak hanya membuat pembeli malas melakukan transaksi tetapi juga enggan untuk kembali lagi ke tempat usaha semula. Sementara bagi pemilik usaha, ia kehilangan kesempatan menuai keuntungan akibat sikap karyawan yang minus terhadap konsumen. Padahal sesuai dengan pepatah lama, yang menganggap seorang pembeli adalah raja mewajibkan pemilik usaha untuk memberikan service sebaik mungkin kepada pelanggannya.
Dan bagi pemilik usaha yang menyadari hal tersebut, segala macam cara akan dilakukan guna mewujudkan kepuasan pelanggan seperti yang dilakukan oleh Budi Utama, pemilik Global Cellular dalam merangkul pelanggan. “Sejak pertama membuka usaha saya berusaha semaksimal mungkin menyenangkan pelanggan misalnya saja memberikan air mineral kepada setiap calon pembeli 5 menit setelah mereka datang. Sebenarnya sifatnya lebih kepada cara kita menjamu mereka. Saya juga tidak merasa rugi jika ternyata si calon pembeli tidak jadi melakukan transaksi,”tutur Budi, Cara Budi ini terbilang efektif untuk menggaet pelanggan. Buktinya ia mampu mengembangkan usaha jual beli handphone-nya dengan cepat. Tak heran, jika pada awalnya ia hanya memiliki satu lapak untuk berjualan maka sekarang ini ia mampu mengembangkan cabang hingga 5 buah dengan omzet per bulannya mencapai ratusan juta rupiah.
Yuliana Agung, seorang pengamat marketing menyebutkan pada dasarnya seseorang sangat tertarik untuk membeli suatu produk tergantung pada kebutuhan dasarnya. Misalnya saja jika ia ingin membeli baju maka biasanya yang paling diperhatikan adalah kualitas bahan, design atau style-nya yang bagus. Sementara apa yang dilakukan para penjual dengan memberikan minuman atau camilan seperti manisan hanyalah suatu bentuk pelayanan atau servis agar konsumen atau pembeli merasa lebih senang sehingga tertarik untuk membeli dan menjadi pelanggan yang selalu setia untuk datang.
“Pada dasarnya proses pelayanan adalah overall dimulai dari sapaan, tatapan mata, intonasi, volume, dan bagaimana cara pemiliki usaha mendengarkan dan memberikan pelayanan kepada calon pembelinya. Namun demikian yang paling penting adalah kualitas barang-barang yang dijual. Dengan memberikan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan konsumen maka kita sudah dapat memberikan pelayanan maksimal sebesar 75 persen, sementara masalah layout, kemasan atau packaging hanya sebesar 25 persen dari total semua pelayanan yang diberikan,”urai Yuliana Agung. Sementara untuk masalah sikap dan perilaku pelayanan sulit untuk dilakukan identifikasi besarannya sebab hal itu sesuatu yang sangat subyektif dan tidak ada standar bakunya, namun demikian Yuliana Agung meyakini bahwa sikap yang baik akan mendorong sukses tidaknya seorang calon pelanggan mau melirik produk yang dihasilkan oleh pemilik usaha.
Dua Strategi Menggaet Calon Pelanggan dan Melanggengkannya.
Mencari pelanggan tentu saja bukan perkara mudah apalagi untuk mempertahankannya agar terus loyal pada produk yang ditawarkan. Sebab menurut Yuliana Agung, tidak ada sesuatupun yang tetap dan loyal dalam dunia bisnis kecuali jika terjadi suatu monopoli. “Setiap orang tentu saja ingin mencoba sesuatu yang baru, tidak mungkin jika selamanya mereka hanya setia pada satu produk saja kecuali jika ada monopoli. Misalnya saja pada monopoli telepon seluler oleh Telkomsel dahulu, sehingga pelayanan apapun yang diberikannya akan tetap diterima konsumen baik pelayanan tersebut baik ataupun buruk karena hanya itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan, ”ungkapnya.
Namun demikian Yuliana menambahkan bahwa pada dasarnya loyalitas pelanggan bisa bertahan lama jika produk tersebut mampu berinovasi artinya membuat improvisasi sehingga tampilan produknya menjadi lebih dinamis sebab jika pemilik usaha hanya bertahan pada satu jenis produk dengan tampilan yang biasa-biasa saja maka impian mendapatkan pelanggan yang setia akan hilang dengan sendirinya. Salah satu bentuk inovasi misalnya saja dengan membuat sesuatu barang menjadi lebih detil. “Kalau untuk usaha sepeda motor misalnya, yang harus diperhatikan detilnya adalah pada bagian sparepart-nya,”tambah Yuliana.
Untuk membuat calon pelanggan menjadi pelanggan, Yulianan Agung memberikan strategi jitu yaitu dengan menggunakan strategi akuisisi yaitu menonjolkan produk yang dijual sehingga nantinya orang akan membeli produk bukan pelayanannya misalnya saja pembelian detergen dan juga shampo. Tetapi untuk kasus yang mementingkan pelayanannya misalnya sekolah maka ia bisa melakukan dengan cara pendekatan secara psikologis. Sementara untuk membuat pelanggan mau menjadi pelanggan yang setia sebaiknya dilakukan dengan strategi ritensi, dengan memuaskan setiap keinginan pelanggan meski itu juga belum cukup kuat sebab banyak kompetitor yang datang.
Untuk itu dalam strategi ini ada tiga hal yang wajib dilakukan:
1.Meningkatkan produktivitas barang atau produk yang telah dihasilkan misalnya dengan membuat produk yang unik yang tidak dimiliki oleh tempat lain.
2.Pemilik usaha harus memperhatikan harga yang dipasang pada produk yang dihasilkan.
3.Selalu membuat ikatan emosional dengan pelanggan. Pada hal yang terakhir inilah peran service sangat dominan. Sebab keputusan membeli seseorang juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan yang diterimanya
Tips Menggaet Pelanggan
Bagi Anda yang memiliki usaha sendiri, mengumpulkan pelanggan adalah suatu keharusan untuk mendongkrak keuntungan. Tapi perlu dicatat bahwa usaha akan tetap eksis jika pelanggan yang datang tak hanya sekali saja bertandang tetapi dengan loyal selalu datang untuk mengkonsumsi produk yang kita hasilkan baik itu produk riil ataupun yang berupa jasa.
Karenanya, tips jitu menggaet pelanggan berikut ini perlu dicoba:
(1). Hal pertama yang wajib dilakukan untuk membuat pelanggan terus setia pada produk yang anda tawarkan adalah dengan melakukan strategi positioning yang bagus dan komunikasi yang tepat. Maksudnya dalam menawarkan produk cobalah untuk menggunakan cara pemasaran yang tepat sesuai dengan segmen market yang disepakati. Jangan lupakan juga masalah kualitas sebab secara psikologis, orang akan lebih tertarik untuk melakukan transaksi setelah terlebih dahulu melihat kualitas produknya. Kemudian lakukan komunikasi yang baik dengan pelanggan baru maupun pelanggan lama.
(2). Setelah memiliki produk unggulan yang berkualitas dan menampilkan keramahan terhadap para pelanggan maka kenyamanan juga akan memberikan nilai plus terhadap calon pembeli. Sebab semakin nyaman orang berada di suatu lingkungan maka kemungkinan untuk datang lagi juga akan semakin besar.

MENCARI IDE DAN PELUANG BISNIS

Persoalan mencari ide usaha memang salah satu masalah utama bagi calon wirausahawan. Anda mungkin pernah atau bahkan sering bertemu dengan orang yang mengungkapkan keinginannya untuk mempunyai usaha sendiri namun tak kunjung juga menemukan ide usaha yang pas. Padahal kalau kita mau, ide usaha bisa diperoleh dari mana saja mulai dari apa yang kita lihat di lingkungan sekitar, apa yang kita dengar sehari-hari, melihat potensi diri sendiri, mengamati lingkungan sampai dengan meniru usaha orang lain yang sudah sukses.
Intinya, ide bisnis bisa dipilih dari upaya pemenuhan apa yang dibutuhkan manusia tersebut, mulai dari kebutuhan yang menyangkut ujung kaki sampai dengan ujung rambut, dari kebutuhan primer, sekunder dan kebutuhan akan barang mewah. Tapi tentu saja perlu diingat bahwa berbisnis sesuai dengan karakter dan hobi kita akan lebih menyenangkan, dibandingkan dengan bisnis yang tidak kita sukai. Kita akan lihat dari mana saja ide usaha itu bisa kita dapatkan.
Kalau Anda perhatikan di lingkungan sekitar Anda, begitu banyak dan beragam jenis usaha yang ada. Anda tentu berpikir bagaimana awalnya pelaku usaha tersebut mendapatkan ide usahanya sehingga bisa berjalan dan berkembang seperti sekarang ini. Tapi kalau Anda cermati, ternyata usaha-usaha tersebut kebanyakan meniru usaha-usaha lain yang telah ada, misalnya usaha internet café, bengkel, rumah makan, biro jasa, minimarket, laundry, even organiser, dan lain-lain. Dalam mewujudkan ide usaha menjadi bisnis, tidak ada suatu keharusan bahwa ide tersebut benar-benar orisinil, bisa saja ide ini hanya merupakan pengembangan dari bisnis yang sudah eksis. Ini membutuhkan kreativitas dari seorang calon wirausahawan.
Kebanyakan para calon pengusaha terjebak dengan pemikiran bahwa ide bisnis haruslah original, lain daripada yang lain. Kalau bisa mendapatkan ide bisnis yang original, itu sangat bagus. Itu berarti Anda mampu menciptakan pasar, Misalnya usaha pembuatan dokumeter proses kelahiran bayi, BabyBorn, merupakan usaha yang pasarnya diciptakan oleh pengusahanya. Sedangkan usaha-usaha yang umumnya sudah ada adalah usaha yang diciptakan karena adanya kebutuhan pasar, yang kemudian pengusaha tersebut berusaha untuk memenuhinya. Misalnya usaha jasa kuras septic tank ada karena banyak orang yang membutuhkan jasanya. Usaha salon ada karena banyak orang yang perlu merawat tubuhnya, Toko bahan bangunan dibuat karena banyak penduduk sekitar yang memerlukan bahan bangunan untuk membangun dan merenovasi rumah, biro jasa pengurusan surat-surat ada karena untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang malas berurusan dengan birokrasi yang ribet.
Tegasnya, sukses tidaknya suatu bisnis tidak terletak apakah yang bersangkutan sebagai penemu ide bisnis atau bukan, tetapi lebih merupakan kemampuan untuk mengoptimalkan kelebihan spesifik dari ide bisnisnya. Ide menjual kue donat bukanlah hal yang baru. Namun, ketika Anda bisa memberikan nilai lebih dibandingkan dengan donat-donat lain di pasaran, baik kreasi bentuk, isi, ukuran, dan tentu saja rasa, maka Anda bisa menawarkan hal yang berbeda dan memberikan nilai tambah.
Inspirasi Bisnis
Semua yang bisa kita lihat bisa dijadikan inspirasi untuk membangun usaha dan membuat kita lebih kaya. Contohnya, kalau kita melihat tubuh seseorang, kita bisa gali ide usaha dari apa yang kita lihat mulai rambut sampai kaki. Misalnya kalau melihat rambut orang, kita bisa membuat usaha salon, jepit rambut, ramuaan penyubur rambut, dan lainnya. Kalau Anda melihat kaki seseorang, Anda bisa mendapatkan ide untuk membuka usaha jasa pijat refleksologi, membuat usaha sandal dan sepatu, membuat keset, dan lainnya. Juga berlaku terhadap apa yang anda lihat dan perhatikan disekeliling Anda.
Orang yang mampu menjadikan segala sesuatu yang ia lihat sebagai inspirasi bisnis mungkin tergolong kelompok yang mampu menciptakan pasar. Ini sebuah kemampuan istimewa dan harus dimiliki oleh seorang pengusaha.
Saya seringkali mendengar pendapat pakar entrepreneur mengatakan bahwa hanya 10% bisnis yang sukses hanya dengan sekali melangkah dan rata-rata, sebelum menemukan bisnis yang sukses, pengusaha mengalami kegagalan lebih dari lima kali. Artinya sebagian besar pengusaha menemukan kemapanannya setelah mencoba mewujudkan gagasan bisnis untuk yang kesekian kali. Itu berarti, semakin cepat orang mendapatkan gagasan dan merealisasikan ide, semakin dekat pula dia pada kesuksesan. Bagi saya, pendapat tersebut ada benarnya, namun di sisi lain sedikit tidaknya itu bisa mematahkan semangat calon pebisnis pemula, maka dari itulah informasi ini sengaja disusun agar Anda sebagai calon pengusaha mendapatkan bekal pengetahuan yang cukup dan bisa mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia usaha untuk mencapai kesuksesan serta dapat menghadapi situasi terburuk yang mungkin terjadi, sehingga Anda tahu apa yang harus dilakukan agar tidak mengalami kegagalan berusaha.
Mengembangkan Ide Bisnis
Ide bisnis bertebaran di mana-mana. Banyaknya jenis usaha yang ada di sekitar Anda menunjukkan bahwa ide bisnis bisa didapat dari pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Anda bisa membayangkan kebutuhan hidup Anda selama ini, kemudian dapat Anda pikirkan siapakah yang sudah memanfaatkan kebutuhan Anda tersebut untuk mendapatkan rejeki dari Anda. Saya yakin umumnya kebutuhan Anda hampir sama dengan kebutuhan orang-orang lainnya termasuk saya.
Gagasan bisnis yang berpotensi tak harus kita cari dengan benar-benar memeras otak atau bersemedi untuk menunggu wahyu dari langit. Berikut beberapa ladang penyedia gagasan bisnis yang dapat Anda gali:
1). Mengenal Diri Sendiri
Silakan Anda kenali diri sendiri. Temukan hobi, kegemaran, kemampuan, jaringan personal, serta potensi diri sendiri yang bisa Anda sulap menjadi sebuah kegiatan bisnis yang menguntungkan. Banyak contoh pengusaha yang sukses dengan ‘mengomersilkan’ dirinya sendiri.
a.Ide dari Pekerjaan dan Keterampilan.
Keterampilan yang sudah kita miliki dan kembangkan dan pekerjaan telah sekian lama kita tekuni dan jalankan merupakan sumber yang kaya akan ide bisnis yang tepat untuk kita. Alasannya? Dari sinilah insting bisnis kita dibentuk dan dipupuk. Banyak orang memilih ide usaha dari pekerjaan yang pernah mereka tekuni dan keterampilan yang sudah mereka miliki. Misalnya seseorang karyawan yang pernah bekerja di sebuah travel agent dan menjadi operasional manager di perusahaan tersebut sebelum akhirnya terjun untuk membangun travel agentnya sendiri. Dari pekerjaannya ini, ia mengembangkan keterampilan teknis dan manajemen, serta mengembangkan jaringan perkenalan dengan orang-orang yang tepat yang harus dihubungi di bisnis yang ia tekuni tersebut. Contoh lain, ada orang yang juga pernah bekerja di pabrik roti, sehingga ia mempunyai keahlian membuat segala jenis roti dan mempelajari manejemen bisnis tersebut, sehingga memutuskan untuk membuat pabrik roti sendiri. Coba Anda renungkan kira-kira bisnis apa yang sesuai dengan pekerjaan dan keterampilan Anda saat ini dan sekiranya cocok untuk Anda jalankan di lingkungan Anda.
b.Ide dari Minat dan Hobi.
Ide usaha juga bisa dimulai dari sesuatu yang Anda akrabi baik minat atau hobi yang Anda miliki. Kedua hal ini merupakan sumber yang memiliki kekuatan yang ampuh dalam membangun keyakinan serta motivasi bagi kita untuk memulai usaha. Umumnya orang tidak merasa terbeban untuk melakukan yang ia senangi dan akrabi. Ini merupakan modal kuat bagi seorang pengusaha yang menekuni dunia yang memang ia cintai. Kalau dari kecil suka bikin kue atau memasak, bisa bikin usaha seputar makanan, kalau suka musik dan pandai memainkannya, bisa buka sekolah musik dan studio musik. Beberapa olahragawan nasional seperti Susi Susanti, Elfira Nasution, dan Ade Rai, mengembangkan usaha mereka di jalur yang sesuai dengan minat, hobi, dan pengalaman kerja: menjadi pelatih, membuka sekolah olah raga, toko peralatan olah raga dan pusat kebugaran. Bahkan kalau Anda hobi cuap-cuap dan suka bergaul kenapa tidak membuat even organiser, kini banyak perusahaan atau individu yang memanfaatkan jasanya.
c.Ide dari Pengalaman.
Pengalaman dan pengetahuan yang ditimba sebelumnya memberikan landasan yang kuat untuk melahirkan ide dan mewujudkannya ke dalam bisnis, serta cara-cara penanganannya mulai dari memproduksi barang sampai memasarkannya ke konsumen. Tidak hanya pengalaman diri sendiri, tapi juga pengalaman orang lain selain merupakan guru yang baik, juga merupakan sumber ide bisnis yang kaya. Jika pengalaman tersebut adalah pengalaman buruk, maka tentunya kita tidak ingin pengalaman tersebut terulang lagi. Kita akan berusaha mencari jalan “baru” untuk menghindari kesulitan dan masalah yang pernah kita alami. Jalan baru inilah yang memacu munculnya ide-ide bisnis yang brilian. Contoh, taruh kata Anda seorang karyawan kontraktor sipil yang sering berhubungan dengan pemasok material dan para mandor pekerja. Mengapa tak menggunakan pengalaman dan jaringan Anda untuk membikin usaha kontraktor kecil-kecilan yang melayani pembangunan rumah di sekitar Anda?
2). Amati Kebutuhan Lingkungan Terdekat
Selain pengalaman, pengamatan ternyata juga adalah sumber ide bisnis yang tak habis-habisnya. Dari pengamatan akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, kita bisa menemukan kebutuhan-kebutuhan pasar yang belum terpenuhi, ataupun sudah terpenuhi tapi belum memuaskan konsumen, yang bisa kita jadikan peluang bisnis. Bahkan, pengamatan ini merupakan keterampilan yang wajib dimiliki seorang pengusaha. Pada prinsipnya, identifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi merupakan konsep dari upaya membangun usaha. Dari pengamatan ini, banyak ide bisnis dan peluang bisnis yang bisa terus digali untuk dikembangkan. Misalnya dari hasil pengamatan terhadap masyarakat, kita bisa lihat dan mengidentifikasi kesibukan orang tua banyak yang tidak memungkinkan mereka untuk mengantar-jemput anak-anak mereka sekolah sehingga kebutuhan pelayanan antar jemput anak sekolah merupakan suatu peluang bisnis yang dapat dijalankan.
Para pengusaha sukses banyak yang mendapatkan ide usaha dari mengetahui kebutuhan dirinya sendiri serta lingkungan terdekatnya. Pengusaha kuras WC dan saluran air memulai usahanya karena ia melihat peluang itu dari kebutuhannya dahulu yang tidak terpenuhi. Pengusaha salon kecantikan banyak memulai usahanya karena kebutuhan dirinya sendiri dalam merawat tubuhnya, sehingga menjadikannya sebagai ide bisnis. Pengusaha warung nasi, juga mengawali usahanya karena kebutuhannya dan orang-orang di sekitar perumahannya akan makanan siap saji kurang terpenuhi.
Kalau Anda tinggal dalam lingkup perumahan, tentu Anda amati bahwa kebutuhan hiburan bagi anak-anak begitu tinggi. Tapi sejauh ini belum ada tempat yang menyediakan fasilitas semacam itu, adanya hanya di supermarket dan mall yang jauh dari lingkungan perumahan. Kalau anda mempunyai modal untuk membuat tempat hiburan anak atau taman bermain dengan fasilitas lengkap, pastilah banyak anak-anak dan orangtuanya yang datang untuk bersenang-senang. Merekapun tak perlu pergi jauh untuk menyenangkan anak-anaknya.
3). Gagasan dari Media Massa
Kalau Anda tengah mencari ide usaha, media massa bisa menjadi sumber gagasan bisnis. Dengan menyimak prakiraan cuaca, misalnya, mungkin terbetik ide di kepala kita untuk memproduksi mantel sepeda motor yang murah. Saat mengetahui jalanan Jakarta semakin macet gara-gara penambahan jalur busway, bisa jadi muncul ide bagi anda untuk menjual sarapan siap saji yang bisa disantap para pengemudi mobil sembari bermacet-ria.
Contoh lain, berita kenaikan harga BBM dan rencana peningkatan tarif listrik sudah dimanfaatkan pengusaha yang jeli untuk memasarkan produk-produk penghemat energi. Maraknya pencurian sepeda motor juga sudah dimanfaatkan para pakar elektronik untuk memproduksi dan menjual sistem pengaman sepeda motor tambahan.
Hematnya, bisnis ini berhubungan dengan ‘ketepatan timing’ dalam memulai suatu usaha yang merupakan suatu komponen penting sukses tidaknya bisnis. Tentu saja kita tidak akan menjual perahu karet atau jas hujan di musim kemarau atau sebaliknya menjual es teler pada musim dingin atau musim hujan.
Tapi, ada satu hal yang mesti Anda ingat kalau hendak mencari ide dari media massa. Jangan gampang terpengaruh dengan artikel-artikel yang bercerita tentang peluang bisnis sendiri. Soalnya, cerita tentang peluang seperti itu pasti juga dibaca banyak orang yang sebagian juga tertarik untuk menirunya. Akhirnya, peluang ini tak menjadi peluang lagi karena terlalu banyak pasokannya.
4). Ide dari Berbagai Iklan Koran dan Yellow Pages
Halaman iklan di koran, majalah, tabloid, internet dan buku telepon bukan hanya menyediakan nomor telepon dan alamat. Kalau Anda cermati, di sana tersaji informasi bermacam-macam bentuk bisnis. Nah, siapa tahu beberapa di antaranya sesuai dengan kompetensi Anda? Atau, siapa tahu sebagian di antaranya sesuai dengan segmentasi pasar yang Anda kenal? Kalau memang begitu, Anda tinggal perlu menimbang apakah bisnis serupa bisa Anda usung dan wujudkan di lingkungan Anda sendiri.
Kalau Anda berniat menjadikan iklan di media dan buku telepon sebagai sumber inspirasi, pilih media atau buku telepon dari daerah lain yang sekelas atau setara dengan daerah tempat tinggal Anda. Cermati juga karakter calon pelanggannya. Kalau memang serupa, Anda tinggal perlu keberanian untuk menirunya.
5). Ide Bisnis Dari Kegagalan dan Kesuksesan Orang Lain.
Orang bijak mengatakan “Belajarlah dari kegagalan orang lain”. Tidak ada salahnya belajar bisnis dari yang gagal. Mengapa? Karena ada kemungkinan kita bisa memulainya dengan kesuksesan. Kegagalan bisnis yang dilakukan orang lain, merupakan pelajaran penting bagi Anda untuk mengoreksi jalan yang salah menjadi benar dan lebih baik lagi. Namun demikian, belajar dari yang sukses pun sangat dianjurkan, karena dengan demikian Anda telah belajar memulai sistem yang sudah terbukti berhasil.
6). Ide Dari Buku, Majalah dan Tabloid. 
Sumber pengetahuan dan pengalaman bisnis bukan hanya kita dapat dari bekerja pada perusahaan tertentu saja, karena saat ini banyak sekali sumber pengetahuan dan pengalaman bisnis yang bisa kita dapatkan. Kalau Anda rajin ke toko buku, atau lapak majalah, cukup banyak buku-buku, majalah-majalah dan tabloid terbitan yang membahas mengenai kewirausahaan dan serta menyajikan informasi-informasi mengenai peluang usaha, pengalaman wirausahawan, berbagai tips dan kiat usaha yang dapat menyegarkan pikiran Anda, sehingga Anda dengan leluasa bisa memilih, bisnis apa yang sesuai dengan karakter dan kemampuan Anda. Beberapa rekomendasi untuk Anda, dan patut dibaca adalah: Tabloid Peluang Usaha, Majalah Pengusaha, Majalah Duit, Tabloid Kontan. Dari tabloit dan majalah tersebut Anda akan memperoleh banyak ide bisnis. Misalnya : melayani kebutuhan, menjual eceran, menjual penemuan, duplikasi usaha, menjual ketrampilan, usaha pelatihan, usaha keagenan, barang koleksi, buka kantor konsultan, bisnis MLM, membeli waralaba, membeli usaha prospektif, membeli usaha yang bangkrut, membuka kios, atau pun usaha bersama.
Seorang wirausahawan pemula juga dianjurkan untuk selalu kreatif dan jeli dengan bisnis yang dijalankannya, artinya selalu melakukan diversifikasi produk atau pengembangan produk agar memiliki varian lebih banyak dengan cara melakukan inovasi terhadap produk-produk dan pelayanan yang sudah ada dan melakukan kreasi untuk produk-produk baru yang belum pernah ada sebelumnya, sehingga konsumen tidak jenuh. Salah satu cara bisa ditempuh dengan mengunjungi usaha-usaha sejenis di daerah lain, sehingga Anda bisa menilai kelebihan apa yang sekiranya bisa Anda lakukan terhadap produk Anda.
Juga bisa dengan melakukan survey melalui kartu opini atau berinteraksi dengan konsumen, sehingga Anda mengetahui sejauh mana produk atau jasa Anda bisa memuaskan konsumen, apa yang sebenarnya dinginkan konsumen, dan apa saja kekurangan produk dan pelayanan Anda yang perlu segera dibenahi dan ditingkatkan.
Satu lagi yang perlu diingat agar bisnis yang akan kita jalankan harus sesuai dengan peraturan ada. Sebaiknya jangan sampai melanggar ketentuan yang berlaku. Jangan karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar lalu kita bisnis barang bajakan, barang palsu atau menjual barang terlarang lainnya. Dan jangan pernah melakukan penipuan dan kecurangan. Boro-boro dapat untung, malahan kita bisa masuk bui.
kliksave : www.miswans.com/mencari-ide-dan-peluang-bisnis.html


Sabtu, 28 Maret 2015

Five Big Ideas for Becoming a Customer Centric Organization

Customers have changed

The reality is that life on this planet is changing. It’s more connected, more empowered and more impatient. We are all part of this change and the pace of acceleration is giving Moore’s law a run for its money. Rights and privileges once taken are never returned. While digital music might have been a disappointment for Neil Young, it still disrupted analog distribution because the consumer wanted music to be more portable and more readily available. We might long with nostalgia for turn tables and record stores, but we are not giving up our iPhone/iPod any time soon. Time to face the music, the nature of being a customer has changed, and by extension, business has changed.

What it means to serve a customer, who is changing out from under you, becomes an exercise in business model agility. The most critical success criterion for business agility is clarity of vision. When you understand how your customer shapes your market, the business tactics become very clear and the organizational complexities become less confused (note: I never said easy). Customer centricity is a CEO and Board level discussion because it is directly tied to business strategy.

Here are five best practices I’ve seen with companies taking a more modern approach to their business.

1) Listen more than you talk – What is true in life, is even more so with customer relationships. You are way more likeable if you listen first and talk second. You have more useful things to say and you are [generally] less annoying. In the era of 24-hour news cycles and social media, this is hard. Technology can help but only if you let it. It is possible to get big and small insights but you need a structural way to leverage them. Too often I see customers listening and only leveraging a subset of the insights, because the group in charge of technology is tied to a single business function. Building an organization that is intellectually curious, that seeks understanding, and respects the wisdom of the crowds, even when [especially when] it is unpleasant, unclear and unvarnished.

2) Employee Engagement matters – Customer centricity requires every part of the organization to participate as it’s the mission critical. Organizations that don’t invest in their employees are going to experience breakdowns. Engaging the employees first, so that they can reflect your brand vision, is the most critical investment you can make. Sharing with your employees your vision, your plans and how you are listening to your customers, makes them better equipped to support your mission.

3) A dose of humility is a good thing – This bit is probably the most controversial but also the most powerful. As power shifts so does the value of humility. Instead of shouting out what’s so great about your product or your company, how about talking about your customers and what is great about them? How about making the customer the hero of your product story, not the product itself. This kind of thinking opens up whole new opportunities on how you service, promote and build products. How you think about the sales lead funnel and how you see market opportunity. Humility. It’s really a big idea. What this does is open up opportunities for vulnerability and transparency. It allows you to share things that didn’t work so great and show how you are trying to improve. It suggests you could be imperfect and it leaves room for the customer to step up and advise and support your company. Hint: They already are pretty clear on where you need to improve anyway.

4) Trade control for co-creation – Since we already have acknowledged that control is no longer an option for business, how about opening up to the idea of Co-creation. Modern companies are leveraging customer feedback at the large and small scale, to help prevent problems, improve outcomes and even take new products to market. The opportunity to leverage the community to help you serve them better, is a virtuous cycle that benefits everyone. Today the best examples of this are often based on serendipity, but I am hopeful for a day where this becomes the norm and not the exception. As an innovator, I see this as very exciting to create better products more quickly, leveraging the value of the network.

5) Review your KPIs – Now that you know there are new business opportunities available to you in this era of Customer Centricity – you need to think about how to drive this strategy to operational effect. Examine your key performance indicators (KPIs). Are they optimized for alignment to your business objective of customer centricity? Are you able to measure the real top and bottom line impact of putting the customer first? Are you capturing the evidence that helps you build lasting value for your business? It’s time to make sure you’re investing in the right things to make your business grow, and we all know we can’t manage what we don’t measure.
The business of business is getting more complex every day, but so are the innovations. Letting your customers become part of your competitive advantage is how you will win.

klicksave : https://blogs.oracle.com

Kamis, 26 Maret 2015

TEORI EMPAT LENSA DEMING (LENSA KEEMPAT)

Lensa Keempat : Manusia (People)
Setiap manusia pada dasarnya unik. Baik karakter, sifat, kebiasaan, kompetensi, persepsi, proses belajar dan kemampuan tiap orang berbeda-beda satu dengan yang lain. Seorang pemimpin harus memahami keunikan yang menjadi kekuatan orang-orangnya, memanfaatkan dan memaksimalisasi kekuatan-kekuatan tersebut demi kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan perusahaan agar bisa tumbuh dan berkembang bersama-sama.
Pada intinya setiap orang akan melakukan hal-hal yang terbaik yang bisa mereka lakukan jika ia (mereka) berada dalam sebuah lingkungan yang memperlakukan mereka dengan baik dan memberi mereka kesempatan dan tantangan untuk bisa melakukan hal-hal terbaik yang mereka bisa lakukan. Ini merupakan asumsi dasar dari lensa keempat ini. Setiap orang ingin melakukan hal yang terbaik jika diberi kesempatan, sarana dan prasarana untuk melakukannya.
Tugas pemimpin untuk menyediakan lingkungan kerja yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan orang-orangnya ini tidak bisa dilaksanakan bila pemimpin hanya mengandalkan logika semata-mata.ia harus belajar untuk memahami adanya faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi manusia.
Dengan mempelajari faktor-faktor psikologis ini, pemimpin bisa menyadari bahwa, walaupun tiap orang memiliki keunikan dan berbeda-beda satu dengan yang lain, pada dasarnya manusia juga memiliki persamaan tertentu dalam faktor-faktor yang menggerakkan mereka. Ambil contoh dengan menggunakan Teori Y dan Teori X dari Mc Gregor. Menurut Teori Y, manusia itu sama dalam arti mereka akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, bila berada dalam suasana yang membuat mereka diperlakukan dengan baik. Sementara menurut Teori X justru sebaliknya, bahwa manusia itu semua malas, tidak bisa dipercaya, dan karenanya harus selalu diawasi dengan ketat, dan sebagainya. Nah, teori mana yang dianut oleh manajemen perusahaan dalam hal ini?
Dalam konteks manajemen menetapkan suatu prosedur bahwa setiap wiraniaga (salesman) harus mengisi laporan kunjungannya setiap hari, motivasi yang melandasi kebijakan tersebut boleh jadi berbeda antara manajemen perusahaan yang satu dengan manajemen perusahaan yang lain. Manajemen perusahaan yang menganut Teori X, melakukan hal tersebut dengan motivasi untuk mengontrol perilaku wiraniaga yang menurutnya sulit diatur, agar mereka dapat diawasi dengan ketat. Dampaknya, wiraniaga akan menyampaikan data yang sebaik mungkin, namun bisa saja si wiraniaga tersebut menghilangkan sebagian data dan fakta yang mereka pikir akan merugikan dirinya sendiri atau membahayakan posisinya. Tentunya hal semacam ini akan merugikan perusahaan dalam jangka panjang, karena pada akhirnya data yang tidak akurat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan oleh manajemen.
Sementara dengan Teori Y, manajemen memerlukan prosedur tersebut bukan atas dasar kecurigaan dan keinginan mengontrol perilaku wiraniaga, tetapi lebih sebagai alat masukan (feedback) bagi kepemimpinannya terhadap sistem yang telah dibangun. Jika ini dipahami oleh karyawan, mereka akan merasa aman dan terlepas dari ketakutan. Mereka lalu cenderung untuk menyampaikan data apa adanya, karena apa pun hasilnya akan dibahas bersama dan merupakan bahan perbaikan sistem secara keseluruhan. Dan dengan data-data yang akurat, manajemen dapat membuat keputusan yang lebih baik. Karena didasarkan pada data yang sesungguhnya, sehingga dalam jangka panjang, perusahaan akan lebih diuntungkan. Jadi, kebijakan yang sama-bahwa wiraniaga harus mengisi laporan kunjungan setiap hari-dapat menciptakan suasana kerja yang berbeda bergantung pada pilihan teori motivasi yang dianut oleh manajemen perusahaan terkait. Dalam hal ini Deming cenderung untuk menggunakan Teori Y.
Hal penting lainnya dalam lensa keempat ini adalah perbedaan dalam melihat motivasi. Bila kita percaya bahwa manusia itu pada dasarnya ingin melakukan yang terbaik, sebenarnya kita juga percaya bahwa motivasi itu sudah ada pada diri setiap karyawan. Inilah yang disebut Deming sebagai motivasi intrinsik, motivasi yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri.
Menurut Deming manusia dilahirkan dengan 100% motivasi intrinsik. Saat bayi mulai lahir, mereka sudah mempunyai motivasi intrinsik untuk mengembangkan kemampuan dirinya, namun secara perlahan motivasi intrinsik itu digeser oleh orang tua atau lingkungannya dengan memberikan motivasi-motivasi ekstrinsik, yaitu hal-hal yang dari luar dirinya, seperti memberi hadiah bila mau berjalan, bertepuk tangan, melambaikan tangan, dan lain sebagainya; juga memberikan hukuman jika melawan atau bertindak tidak sesuai dengan perintah tertentu. Dengan demikian, muncullah sistem reward and punishment alias carrot and stick yang populer dalam manajemen konvensional.
Untuk itu seorang pemimpin bertugas mengembalikan motivasi intrinsik, dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin motivasi ekstrinsik, agar muncul kembali motivasi dari dalam karyawan. Artinya seorang pemimpin perlu memperhatikan hal-hal yang menghambat motivasi intrinsik karyawan, seperti menghilangkan katakutan. Itu sebabnya diperlukan cara kepemimpinan yang jitu, yang disesuaikan (tailored) untuk tiap-tiap orang sesuai keunikan mereka.


Terkait dengan konsep Deming seputar motivasi intrinsik dan ekstrinsik ini, menarik menyinggung sedikit hasil studi yang bertajuk How Do You Motivate Employees di Harvard Business Review tahun 1987 (Lihat Gambar)

Data dalam gambar di atas menunjukkan bahwa Herzberg juga membagi faktor-faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan (satisfiers) yang berfungsi sebagai the real motivator, dan faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpuasan kerja (dissatisfier) yang berfungsi sebagaihygiene factor.
Kalau diperhatikan dengan seksama, faktor-faktor yang menimbulkan kepuasan kerja, yang membuat karyawan menunjukkan motivasi yang kuat, sangat mirip dengan apa yang disebut Deming sebagai motivasi intrinsik. Sementara apa yang disebut Herzberg sebagai hygiene factor bisa dikatakan serupa dengan motivasi ekstrinsik Deming.
Hygiene factor adalah suatu kelompok faktor yang bila tidak ada akan sangat mengecewakan dan dikeluhkan karyawan, tetapi bila ada (terpenuhi) dan ditambah terus pada akhirnya tidak pernah memuaskan atau memotivasi karyawan. Faktor yang termasuk dalam kelompok ini antara lain gaji, peraturan perusahaan, status keamanan kerja, kondisi kerja, perlengkapan kerja, dan lain-lain. Apabila perlengkapan kerja tidak memadai misalnya, atau gaji amat sangat rendah, maka motivasi dan kepuasan kerja karyawan akan sangat terganggu. Namun, bila perlengkapan kerja relatif lengkap dan gaji dinaikkan di atas rata-rata industri , karyawan juga tidak akan dengan sendirinya termotivasi. Mereka hanya dicegah untuk tidak mengeluh, tidak komplein (contributing to job dissatisfaction).
Sedangkan yang termasuk the real motivator, atau benar-benar bisa memuaskan dan memotivasi kerja kepada karyawan, yang memberikan kepuasan kerja kepada karyawan, antara lain: tantangan, jenis pekerjaan itu sendiri, penghargaan, rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Artinya, jika karyawan merasa mendapat tantangan yang menarik minatnya untuk bertumbuh, atau jenis pekerjaanya cocok dengan kekuatannya yang membuat ia yakin akan bisa menunjukkan kinerja yang hebat, atau perasaan dihargai oleh manajemen perusahaan, perasaan dipercaya dan diberi tanggung jawab yang besar, didukung untuk berprestasi, maka karyawan akan menjadi sangat termotivasi dan merasa puas dengan pekerjaannya.
Jadi, seorang pemimpin perlu mengetahui betul mana yang real motivator atau motivasi intrinsik karyawan, dan menggunakan faktor-faktor yang memotivasi ini untuk bisa lebih efektif dalam mengarahkan dan mengelola karyawannya.
Selanjutnya, lensa keempat ini mengajarkan bahwa dengan memahami manusia dan sistem, pemimpin perlu melihat bagaimana manusia dan sistem berinteraksi. Deming memandang kinerja (performance) yang kita lihat sebenarnya adalah kinerja dari suatu sistem (system performance) karena adanya interaksi kuat antara sistem dan manusia.
Interaksi antara manusia dan sistem yang bekerja di sekitarnya, dibuat Deming dalam bentuk persamaan berikut ini:
P = X + Y (XY)
P = SYSTEM/PROCESS PERFORMANCE
X = Kontribusi INDIVIDU
Y = Kontribusi Sistem
(XY) = Kontribusi INTERAKSI Individu dengan Sistem
Sebagai contoh, katakanlah seorang wiraniaga mempunyai kinerja penjualan Rp. 100 juta per bulan. Artinya Rp. 100 juta tersebut adalah P bukan X (individu). Nilai tersebut terjadi selain karena faktor kinerja wiraniaganya, juga didukung oleh sistemnya (misalnya dukungan program komunikasi pemasaran, jalur dan jadwal kunjungan, ketersediaan produk, dan lain-lain), maupun interaksi di antara komponen-komponen yang mempengaruhi penjualan tersebut.
Untuk itu pemimpin perlu berhati-hati melihat kinerja, apalagi menghubungkan kinerja dengan gaji individu karyawan. Sebab sejumlah kasus menunjukkan bahwa dalam organisasi (perusahaan) biasanya faktor sistem dan interaksinya berperang sangat besar sementara faktor individu menjadi kecil. Itu sebabnya ada fenomena manajer yang sangat berprestasi di sebuah perusahaan belum tentu mampu menunjukkan prestasi yang sama jika dipindah ke perusahaan lain. Meskipun kompetensi dan pengetahuan sang manajer tidak berubah, namun ia menghadapi sistem yang berbeda, sehingga hasilnya juga akan cenderung berbeda.


Jadi, lewat lensa keempat ini Deming mengajarkan bahwa pemimpin perlu menyadari bahwa walaupun memiliki keunikan, setiap manusia juga memiliki kesamaan, yakni mereka akan berusaha untuk melakukan yang terbaik bila berada dalam suasana yang kondusif, serta diperlakukan dengan baik. Kesadaran dan keyakinan akan hal ini merupakan modal utama kepemimpinan. Kesadaran dan keyakinan semacam ini menuntut keterlibatan hati untuk sungguh-sungguh mau memikirkan dan memahami orang-orang yang dipimpin, berusaha membangun sistem yang membuat setiap pemimpin tumbuh dan berkembang menjadi diri mereka yang terbaik.


TEORI EMPAT LENSA DEMING (LENSA KETIGA)

Lensa Ketiga: Pengetahuan (Knowledge)
Deming mengatakan bahwa setiap orang memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber seperti buku, pelajaran di sekolah dan universitas, pengalaman sukses, pengalaman gagal, pergaulan dan interaksi dengan lingkungan, dan sebagainya. Jadi, segala sesuatu yang masuk melalui panca indera kita, masuk dan dicerna atau disimpan oleh otak kita, menjadi pengetahuan bagi otak kita. Itu sebabnya pengetahuan masing-masing orang yang ada dalam masyarakat sangat beraneka ragam, karena setiap orang memiliki pengetahuan yang sangat bervariasi sesuai latar belakang pengalaman hidupnya masing-masing.
Jika kita mengumpulkan sejumlah orang yang diambil secara acak dari populasi yang ada di Indonesia, katakanlah satu dari Jayapura, satu dari Banda Aceh, satu dari Medan, satu dari Pontianak, satu dari Bandung, satu dari Yogyakarta, satu dari Surabaya, satu dari Manado, dan satu lagi dari Denpasar, maka variasi dari orang-orang tersebut akan relatif besar. Dengan variasi yang sangat besar, akan menjadi sulit untuk melakukan kerja sama dan memberikan beban yang sangat besar kepada pemimpin yang harus mengarahkan orang-orang ini untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Akan tetapi, hal yang demikian tidak harus terjadi dalam konteks organisasi bisnis. Dalam sebuah perusahaan, pemimpin bisnis terkait dapat memilih orang-orang yang masuk ke dalam organisasinya secara selektif, dengan mempergunakan standar Indeks Prestasi Komulatif tertentu, merujuk pada asal universitas tertentu, merujuk pada asal universitas tertentu, ditambah dengan perangkat tes psikologis, plus wawancara, dan dengan demikianmemperkecil variasi di antara mereka. Bahkan juga membuat rata-rata pengetahuannya relative lebih tinggi dari variasi yang ada dalam populasi.
Bila kemudian orang-orang yang relatif telah terseleksi dan memiliki rentang variasi yang kecil ini diberikan sejumlah pelatihan bersama, rata-rata pengetahuannya akan naik lagi dan variasinya juga akan semakin kecil (ingat ini merupakan inti dari proses peningkatan kualitas sebagaimana dijelaskan dalam lensa Variasi sebelum ini). Dengan demikian pemimpin dapat mengharapkan para pekerjanya untuk menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi, menghasilkan produk yang lebih berkualitas, menjadi pekerja yang bisa diandalkan, dan karenanya perusahaan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Karena gaji cenderung naik setiap tahun, pemimpin bisnis perlu memastikan bahwa kompetensi masing-masing anggota di tim kerjanya juga meningkat dari tahun ke tahun. Lalu, dengan kompetensi yang meningkat pemimpin bisnis perlu menyediakan tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar untuk dipikul oleh orang-orang yang kompeten ini, sebab jika orang bertumbuh dan memiliki kompetensi yang kuat sementara lingkungan kerjanya kurang memberikan tantangan untuk maju, orang-orang yang sudah amat terlatih ini akan meninggalkan perusahaan. Hal ini akan merugikan pemimpin bisnis itu sendiri.
Tentang lensa ketiga ini lebih jauh dijelaskan bahwa pada intinya pengetahuan (knowledge) sangat penting karena dipergunakan untuk memprediksi atau memperkirakan sesuatu. Dengan perkataan lain, pengetahuan menjadi landasan bagi pengambilan keputusan dalam perusahaan. Di sini berlaku asumsi pokok bahwa makin tinggi pengetahuan seseorang, makin tinggi pula kemampuannya dalam memperkirakan (prediction) sesuatu, sehingga makin akurat keputusan yang diambilnya. Keputusan yang “akurat” menunjuk kenyataan bahwa hasil (result) sama dengan atau sekurang-kurangnya mendekati apa yang telah direncanakan sebelumnya.
Lensa ketiga Deming ini juga menegaskan bahwa “pengetahuan” merupakan gabungan atau dialektika antara teori dan pengalaman. Bila seseorang memiliki teori tertentu, tetapi belum pernah menerapkannya secara langsung, pengetahuannya dianggap belum lengkap, belum mendalam. Namun, bila yang dipahami sebagai teori tersebut kemudian telah dicoba, dipraktikkan, diterapkan, sehingga menjadi “pengalaman”, hal itu baru bisa disebut sebagai “pengetahuan yang mendalam”, terlepas dari apakah teori itu terbukti benar atau justru keliru, semuanya telah menjadi pengetahuan.
Dengan pemahaman tersebut dapat dikatakan bahwa setiap upaya meningkatkan pengetahuan harus melalui proses pembelajaran (learning), yakni melalui pengalaman untuk menguji teori/asumsi yang menjadi dasar suatu perkiraan. Bila dan hanya bila terjadi proses pembelajaran lewat pengalaman (learning), terjadilah peningkatan pengetahuan yang mendalam.
Bila pada saat pengalaman menunjukkan bahwa perkiraan atau teori kita salah (baca: tidak akurat), tetapi kita tidak bersedia untuk memodifikasi dan/atau meninggalkan teori yang salah tersebut, kiranya tidak terjadi pembelajaran (no learning), dan karenanya tidak terjadi peningkatan pengetahuan.


Berikut Flow Chart Learning yang menjelaskan hal tersebut di atas.

Lensa ketiga Deming ini juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin wajib berupaya meningkatkan pengetahuannya dari waktu ke waktu. Artinya, pemimpin perlu menguji teori atau asumsinya secara terus menerus dan menarik pelajaran dari semua pengalamannya. Tidak masuk akal bila pemimpin menunjukkan sikap  sebagai orang yang paling tahu dalam semua hal terhadap bawahannya, sebab seluruh wawasan dan pengalaman yang dimilikinya akan menjadi teori atau asumsi yang harus terus menerus diuji lagi apakah masih cukup akurat dalam memprediksi sesuatu ke masa depan, dalam menghadapi situasi-situasi baru yang berkembang dan berubah-ubah.
Sikap rendah hati dan bersedia dikoreksi bila prediksinya keliru sangat penting dicontohkan oleh pemimpin agar orang-orang yang dipimpin juga belajar untuk menunjukkan sikap senada. Bila pemimpin menunjukkan sikap merasa paling tahu dan paling benar, ia tidak menciptakan iklim bagi anggota organisasinya untuk berpikir dan bertanggung jawab. Orang-orang yang dipimpin kemudian akan cenderung mengikuti arahan si pemimpin dan bertindak berdasarkan instruksi semata, sehingga jika terjadi kesalahan mereka bisa lepas tangan, sebab bukankah semua dilakukan berdasarkan arahan si pemimpin itu sendiri?
Dengan sikap rendah hati dan terbuka untuk dikoreksi, pemimpin melakukan pemberdayaan kepada bawahannya dengan cara mengajak mereka belajar memahami teori atau asumsi-asumsi yang dipergunakan dalam membuat keputusan, lalu melihat akurat atau tidaknya asumsi-asumsinya pada kenyataan di lapangan, dan menarik pelajaran dari pengalaman tersebut.

Cara yang demikian ini akan memungkinkan bawahan yang memiliki tanggung jawab operasional di bidang tertentu, pada suatu saat akan mampu mengembangkan kompetensinya di atas kemampuan pemimpinnya. (Lihat Gambar Pemberdayaan untuk Kompetensi Operasional)
Keterangan : x adalah jumlah waktu yang diperlukan oleh pemimpin untuk pemberdayaan total.


Keterangan : Tanpa pemberdayaan, kompetensi operasional pemimpin akan selalu lebih tinggi daripada bawahannya dan mengakibatkan ketergantungan yang sangat tinggi.
Jadi, agar terjadi peningkatan pengetahuan bagi seluruh anggota dalam perusahaan, lingkungan yang kondusif untuk belajar dan kesempatan untuk gagal harus diberikan, sebab sebagaimana digambarkan sebelumnya dalam Flow Chart Learning, proses pembelajaran yang sesungguhnya hanya terjadi bila teori atau pengetahuan yang kita dapatkan kita uji dengan mempraktikkannya dalam pengambilan keputusan, sehingga menjadi pengalaman.
Dengan konsep pembelajaran itu, pemberdayaan harus dilakukan oleh seorang pemimpin justru ketika kompetensi bawahan belum menyamai kompetensi pemimpin. Dalam proses pemberdayaan, pemimpin memberikan kepercayaan kepada bawahan untuk mengambil keputusan, agar bawahan mengalami proses pembelajaran, sehingga dengan berjalannya waktu bawahan dimungkinkan untuk menjadi lebih ahli daripada pemimpinnya dalam bidang tersebut. Kepercayaan pemimpin ini mengandung resiko, karena hasilnya bisa positif atau negatif. Oleh sebab itu, sebelum melakukan proses pemberdayaan, pemimpin harus benar-benar memperhitungkan risiko tersebut agar masih dalam batas yang bisa dipertanggungjawabkan secara bisnis (manageable).
Dalam soal pemberdayaan ini terkadang muncul keraguan pada sementara orang. Bila seorang pemimpin berhasil memberdayakan bawahannya, ia akan “kehilangan pekerjaan” yang selama ini ia lakukan. Bawahannya bisa berkembang menjadi lebih pintar dalam bidang tersebut. Lalu bagaimana dengan sang pimpinan itu sendiri? Tidakkah keberhasilan bawahannya itu akan membahayakan karirnya?

Organisasi merupakan suatu organisme yang terus bertumbuh dan berkembang bersama-sama dengan orang-orang dalam organisasi tersebut. Artinya, pemimpin akan selalu mencari cara untuk juga bertumbuh dan berkembang mengekplorasi hal-hal lain yang lebih bersifat strategik. Ia juga dapat mengembangkan kompetensi baru, melihat perkembangan di luar organisasi, mencari dan menciptakan peluang-peluang baru, dan memastikan organisasi untuk tetap mampu mengikuti perubahan eksternal dengan tetap mengacu pada nilai-nilai ini (core value) dan misi organisasi. Seperti Peter Drucker, kampiun di dunia manajemen yang selama hidupnya selalu menargetkan penguasaan kompetensi baru di setiap periode tertentu, demikianlah setiap pemimpin perlu terus berkembang dan bertumbuh. (Lihat Gambar Siklus Kompetensi Pemimpin).

Penguasaan kompetensi baru akan terjadi jika pemimpin mengalami proses rotasi untuk mengerjakan tugas yang berbeda, sehingga ia terus belajar. Misalnya, manajer pemasaran dirotasi untuk memimpin unit produksi, atau manajer keuangan dirotasi untuk menanganigeneral affair atau ke bagian riset dan pengembangan, dan sebagainya. Dengan demikian, secara bertahap pemimpin bertumbuh kompetensinya, sebab bagaimanapun penguasaan kompetensi di satu bidang tugas hanya memerlukan waktu tertentu-katakanlah 3-5 tahun. Dan setelah seseorang menjadi piawai dalam bidang tersebut, ia memerlukan tantangan baru dengan menangani bidang yang lain agar ia mengalami pertumbuhan. Hanya bidang yang selalu menghadapi kasus-kasus baru, seperti misalnya riset dan pengembangan, yang terus menerus menyediakan tantangan baru, sehingga tanpa rotasi pun akan selalu ada tantangan. Kalau organisasinya sendiri tidak berkembang, mungkin proses pemberdayaan dalam organisasi menjadi menakutkan karena ada yang merasa terancam bila bawahannya menjadi pintar. Namun pertumbuhan dan perkembangan orang-orang yang berpotensi menjadi pemimpin justru menjadi tantangan untuk menyalurkan mereka supaya meraih peluang-peluang baru dan mendirikan unit-unit bisnis yang baru, sehingga saluran pipa kepemimpinan (leadership pipeline) ini terus menerus memproduksi pemimpin baru yang menyongsong peluang baru.